Software dari ITS Bantu Negara Hemat Rp52 M

photo_ITS_nama

KTD-Konsumsi listrik oleh masyarakat Indonesia belum efisien, baik secara pribadi maupun untuk kebutuhan industri. Oleh karena itu, perlu ada sebuah sistem untuk mengatur penggunaan listrik secara efektif dan sesuai kebutuhan.

Solusi itu hadir dari tangan para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya M Fauzan Aristyo, M Fadli Aziz, Albert Riyanta, dan Deni Asari. Empat sekawan itu menghasilkan karya yang diberi nama Power Optima Simulator: Simulator Operasi Minimum Tenaga Listrik, Jawa-Madura, Bali (Jamali) 500 Kv Berbasis Dynamic Direct Current Optimal Power Flow (Ddcrof).

Karya tersebut berupa sebuah software yang mensimulasikan perencanaan tenaga listrik. Tak main-main, hasil ciptaan mereka juga mampu menjadwalkan kapan sebuah pembangkit tenaga listrik harus dioperasikan. Bahkan, software ini juga dapat mengatur berapa besar daya yang dibutuhkan di tiap jaringan listrik.

Canggihnya lagi, software itu dapat mendeteksi dan mendistribusikan daya di tiap jaringan Jamali yang kekurangan daya. ''Ketiga keunggulan tersebut tentu bertujuan untuk mendapat biaya operasi yang paling minimum,'' ujar Fauzan.

Setelah dihitung, karya Fauzan dan kawan-kawan ternyata berhasil menekan biaya penghematan sebesar dua sampai sembilan persen. Apalagi jika dikonversi dalam nilai rupiah, penghematan dengan menggunakan piranti lunak itu mencapai angka Rp52 miliar.

"Mungkin kelihatannya sedikit. Tapi jika software tersebut diaplikasikan pada perusahaan seperti PT. Perusahaan Listrik Nasional (PLN) atau Chevron, dengan penghematan sebesar dua sampai sembilan persen, dapat mencapai penghematan biaya hingga Rp52 miliar per tahun," tuturnya.

Ide kreatif empat mahasiswa itu terbukti mampu menuai apresiasi dari kalangan akademik maupun industri. Hal itu dibuktikan dengan raihan dua medali emas pada kategori presentasi dan poster dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XXVII.

Fauzan menambahkan, software tersebut juga pernah meraih juara pada ajang bergengsi Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamina 2013 bidang aplikasi perangkat lunak. ''Pada waktu itu, software ini masih dalam versi pertama (V.1),'' jelas Fauzan.

Tak berpuas diri, Fauzan kembali mengembangkan software tersebut. Sehingga di tahun yang sama, software itu berhasil menyabet juara kedua dalam ajang paling bergengsi besutan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Indonesia ICT Award 2013.

"Perbedaan software pada ketiga ajang penelitian itu terdapat pada fiturnya di tiap versi. Pada Pimnas, saya tambahkan sebuah fitur yang mampu membaca kebutuhan daya secara real time dan berkelanjutan. Sehingga jika suatu saat terjadi pelonjakan daya, software itu mampu mengatasi dan memprediksi kebutuhan bulan selanjutnya," tutupnya.

Category: IptekTags:
No Response

Leave a reply "Software dari ITS Bantu Negara Hemat Rp52 M"