Warga Teluk Jambe Tak Mau Konflik dan Ingin Masalah Cepat Selesai

1270125026_85147303_2-Gambar--lahan-murah-dan-strategis[1]

Karawang, KTD- Warga Teluk Jambe yang sering dikabarkan ikut mempersoalkan status tanah 350 hektar di desa Margamulya, Wanakerta, dan Wanasari, Teluk Jambe, Karawang, sebenarnya ingin masalah sengketa ini cepat diselesaikan dengan sebaik-sebaiknya. Menurut tokoh desa Teluk Jambe, Obik Supriadi, warga mulai capek dengan masalah yang bertahun-tahun tidak kunjung selesai ini.

"Sebenarnya, warga mau saja dengan tawaran penyelesaian yang terbaik. Cuma itu, mereka sungkan atau mungkin juga takut dengan orang-orang yang katanya menolong mereka," kata pria yang biasa dipanggil Abah Obik ini.

Menurut Obik Supriadi, warga juga merasa kaget kalau masalah ini digiring ke arah yang bisa menimbulkan konflik. "Seperti demo-demo yang sering dilakukan itu, warga tidak terlalu suka jika sudah kelewatan," ujar Obik.

Pernyataan Abah Obik juga senada dengan penuturan Kamsir, pemuda asal Margamulya, Teluk Jambe. Menurut Kamsir, warga takut jika sengketa ini bisa menyebabkan konflik fisik. "Apalagi, seminggu lalu ada kasus bom molotov di kantor Sepetak," kata putra (alm) Calim, salah satu pemilik lahan di desa Margamulya ini.

Menurut Kamsir, dia sendiri heran kenapa sengketa ini mulai mengarah kepada kekerasan. "Sulit dipercaya kalau itu dilakukan PT. SAMP. Karena, perusahaan ini kan secara hukum di atas angin. Untuk apa mengambil langkah itu," kata Kamsir yang tidak percaya dengan tudingan bahwa PT. SAMP ada di balik aksi itu.

Seperti diketahui, berdasarkan keputusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung Nomor 160/PK/PDT/2011, Tanah seluas 350 hektar di Teluk Jambe telah sah dimiliki oleh PT. SAMP. Semua keputusan atas gugatan puluhan warga yang mengaku pemilik tanah, mulai dari tingkat pengadilan negeri hingga ke tingkat kasasi dan PK, memenangkan PT. SAMP.

Sudah belasan tahun tanah ex tegal waroe landen ini disengketakan melalui beberapa orang. Namun, gugatan perdata yang dilakukan oleh Amandus Juang dan Minda Suryana yang telah dikalahkan oleh keputusan PK itu masih terus berbuntut hingga saat ini.

Karena upaya hukum yang sering kandas, menurut Dul Jalil, Sekretaris Jendral LBH Karawang, pihak Iawan PT. SAMP juga melakukan cara lain seperti aksi pengerahan massa. "Sepertinya, setelah gagal dengan jalur hukum, mereka memakai cara-cara aksi massa yang membawa-bawa warga dan petani untuk mempermudah mencapai tujuan," ujar Dul Jalil.

Sementara itu, tokoh Teluk Jambe, Abah Obik, tidak yakin aksi demo yang sering terjadi itu dilakukan oleh warga atau petani asli. Misalnya, dalam Aksi Tanam Jagung beberapa waktu lalu, Obik Supriadi meragukan jika yang melakukan aksi tersebut adalah petani atau warga setempat. "Kalau melihat orang-orang yang ikut aksi itu, tidak ada yang seperti petani. Warga Margamulya pun paling hanya satu dua saja," kata Abah Obik. (may)

Category: Karawang, SorotanTags:
No Response

Leave a reply "Warga Teluk Jambe Tak Mau Konflik dan Ingin Masalah Cepat Selesai"