Forum Gabungan Masyarakat Karawang Meminta AKING SAPUTRA, S.H., MKn, Menjadi KARAWANG 1

a-1

Karawang, KTD-Pimpinan Forum Gabungan Masyarakat  Karawang (FGMK) Rabu kemarin menyambangi  Aking Saputra, salah satu putra daerah Karawang yang berprestasi, di Kantornya, Perumahan Grand Taruma Jl. Tarumanagara Karawang.  Sutisna (yang biasa dipanggil Wa Petis), pimpinan FGMP, menyampaikan kepada AS nama-nama beberapa kandidat Karawang 1 yang telah muncul ke publik. Menurut Wa Petis, sejauh pengamatannya, pada saat ini hanya pak Akinglah yang dinilai paling layak menjadi Karawang 1. Pak Aking Saputra adalah putra daerah yang dilahirkan di kampung Cinangoh, Karawang Wetan, yang orang tuanya sejak zaman pendudukan Jepang sudah menjadi penduduk di Karawang. Kakek pak Aking adalah seorang pensiunan polisi yang terakhir bertugas di Karawang.

Wa Petis menyampaikan bahwa pada saat ini, Pak Aking adalah figur yang tepat menjadi pimpinan Karawang, putra daerah, lahir dan besar di Karawang. Saat SD, SMP, SMA terkenal sebagai anak jenius, juara umum sekolah, hidup sejak kecil prihatin, sekolah S-1 dan S-2 di Universitas Indonesia, yang bergengsi, menguasai hukum, politik, ilmu birokrasi, pengetahuan luas di bidang sosial, budaya, pertanian, infrastruktur, industri,  dan agama, ahli ekonomi dan keuangan.  Pak Aking telah membuktikan diri berkontribusi di Karawang walaupun hanya sebagai swasta.

Terhadap permintaan tersebut Aking mengomentari, “ah, jangan terlalu berharap banyak lah kepada saya, jangan over estimate, nanti kecewa lagi, da aku mah apa atuh,” sitir Aking mencuplik lagunya Cita Citata.

Atas pertanyaan Wa Petis, bahwa banyak masyarakat Karawang mengenal Pak Aking sebagai pengusaha,  Aking  memberikan koreksi info kepada teman-teman yang bukan orang lama Karawang, maksudnya pendatang dan generasi di bawah saya, mereka tahunya Aking  itu  seorang pengusaha, itu salah. “Saya adalah lawyer, ahli hukum, keahlian saya sesuai kesarjanaan saya dan profesi saya selama 27 tahun berkarir di bidang hukum, lalu saya juga adalah jebolan sekolah wartawan dari IISIP Jakarta, seangkatan dengan Andy F. Noya dan Iwan Falls, sehingga saya juga berlatar belakang jurnalis dan aktivis dan sampai saat ini saya adalah aktivis, cuma tidak banyak yang tahu, karena saya silent operation , tidak ada yang tahu khan kalau saya ini sering ke kampung-kampung berkeliling, karena tidak banyak yang tahu wajah saya, orang hanya tahu nama tapi tidak tahu wajah. Di samping itu,  dengan 11 bersaudara, network saya di Karawang sangat luas, kalau lebih tua, pasti orang itu temen orang tua saya atau teman kakak saya, kalau lebih muda, pasti orang itu teman adik saya. 11 anggota  keluarga saya beserta sekian puluh keponakan, adalah lulusan SMPN I dan SMAN I Karawang. Tiga adik saya dokter berkiprah di Karawang, di Pindo deli, dll.”

a-2

Atas pertanyaan Wa Petis mengenai kriteria untuk menjadi Karawang 1, Aking menjelaskan bahwa sebenarnya sederhana, hanya 2: pertama:  kemampuan teknis di segala bidang dan  kedua: memiliki sifat jujur dan amanah.

Wa Petis juga menanyakan pendapat Pak Aking soal fenomena money politic dalam pilkada, pileg, maupun pilkades.

Aking menjelaskan bahwa masyarakat juga salah, meracuni calon dengan permintaan uang, mengajukan diri menjadi tim sukses lalu meminta uang ke calon  untuk pembiayaan, nyumbang tempat ibadah, nyumbang orang sakit, nyumbang sirtu buat jalan, itu salah besar! Tempat ibadah, jalan, jembatan dll adalah kepentingan umum yang harus dibiayai oleh duit publik! Bukan duit Bupati atau calon Bupati. Warga masyarakat yang mengharap calon memberikan sumbangan seperti itu, maaf saja, lebih baik tidak memilih.  Tetapi, sebenarnya, kalau semua calon menutup diri tidak menebar uang, tentu masyarakat juga tidak bisa memaksa, dan teredukasi dengan sendirinya.

Kalau calon mengeluarkan pembiayaan berupa: biaya operasional alat peraga kampanye, biaya transport, pulsa dan makan dan honor orang-orang yang membantu calon, itu wajar . Kalau sumbangan,  apalagi money politic, itu salah

Tanya    : Di Juli 2014, Anda tertangkap tangan dalam Operasi Tangkap Tangan OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),  dan sempat ditahan sehari semalam di KPK, sebagian orang mungkin berpendapat bahwa Anda itu tukang suap, tentu negatif bagi Anda, apa penjelasan Anda?

AS           : Kita samakan dulu ya istilah nyuap atau terpaksa. Begini: dalam peristiwa OTT tersebut, saya mengajukan izin pembangunan Mal di Jalan Kertabumi bekas pabrik es Karawang, apakah  ada aturan tata ruang atau lainnya yang dilanggar? Tidak ada! Bahkan, di tahun 2005, Pemda Karawang sudah menerbitkan izin pembangunan mal di lokasi itu. Kalau kemudian izin saya  diperlama, dan dikeluarkan isu macet di jembatan Jalan Tarumanagara, yang tidak ada kaitannya dengan lokasi saya di Jl. Kertabumi yang tidak pernah macet, jadi saya ini warga tukang suap ataukah warga yang “dikerjai” , dan malah harus dilindungi dan dikasihani? Asal tahu ya, dari zaman Jepang, keluarga saya sudah di Karawang, kota Karawang itu tempat main saya dari lahir dan saya sangat tahu dengan segala aturan tentang kota saya, lebih tahu daripada Anda yang pendatang baru.

a-3

Tanya    : Apa pendapat Anda tentang rencana pembangunan pelabuhan Cilamaya dan bandara di Karawang?

AS        :Pelabuhan Cilamaya adalah kebutuhan seluruh masyarakat di Jawa Barat, terutama Kabupaten Karawang, Bekasi, Purwakarta, Subang, dan Bandung  dan keberadaan pelabuhan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, pengusaha, maupun pemerintah, jadi harus terwujud. Saya mengamati bahwa kemampuan pejabat Karawang kurang memadai dan tidak cukup menguasai masalah dalam berkomunikasi dan membina hubungan dengan Pemprov, Pemerintah Pusat, dan pengusaha Jepang terkait rencana pelabuhan ini. Saya kira kita mampu mewujudkan rencana ini, tentunya dengan bantuan seluruh stakeholders (pemangku kepentingan). Kita  tentunya menyadari bahwa konsep pembangunan pelabuhan ini tidak terhindar dari resiko mengurangi porsi tanah pertanian, namun hal itu bukanlah hal yang haram, yang penting kita meminimalisir konversi tanah pertanian menjadi non pertanian, antara lain dengan cara pembuatan jalan layang, karena dengan jalan layang, bangkitan pengembangan wilayah menjadi non pertanian hanya terjadi di titik-titik turun layang. Saya juga sudah memikirkan bahwa pembangunan pelabuhan dan bandara akan memancing pendatang domestic maupun luar negeri ke Karawang, dan hal ini berpotensi adanya disharmoni antara kelompok penduduk aseli seperti saya dengan orang asing atau pendatang, karena itulah kita sebagai pemerintah harus memiliki jurus antisipasi agar disharmoni ini tidak terjadi, atau setidaknya terjadi sesedikit mungkin.

Tanya    : Karawang, Cikampek, Klari, Kosambi, Rengasdengklok dll sekarang sering macet, apa pendapat Anda?

AS         : Pada prinsipnya, macet tidak bisa dielakkan karena bertambahnya kendaraan dan terbatasnya peningkatan ruas jalan, namun untuk situasi Karawang, selain penambahan ruas jalan dan perbaikan jalan (yang tentunya harus Wa Petisggarkan dan perlu dana besar), ada 2 hal yang sebetulnya bisa dilakukan untuk mengurangi kemacetan tanpa butuh enerji besar, pertama: pengaturan lalu lintas yang akurat dan perbaikan perilaku pengendara. Contoh yang sekarang terjadi saja: pengaturan satu arah untuk Jalan Kertabumi adalah tindakan keliru, Kertabumi itu jalan yang lebar dan tidak macet, titik macet yang ada hanya di ujung jalan belakang pasar, dengan dibuat satu arah, masyarakat menderita dan berputar-putar membebani jalan-jalan lain (dalam traffic management, hal ini disebut melakukan perjalanan semu). Penempatan traffic light di kolong Flyover pabrik es juga keliru, karena frekuensi perlintasan di titik tersebut belum padat, keberadaan traffic light di situ justru malah memperlama dan membahayakan. Banyak pengaturan lain yang keliru, dan saya bisa jelaskan lebih detail kalau Anda atau pembuat kebijakan mau berdiskusi dengan  saya, Kedua, segera buat jalan baru, perlebar yang sudah ada, perbaiki segera yang rusak. Contoh, Jalan Raya Proklamasi dari Tanjungpura ke Rengasdengklok, puluhan tahun sejak saya kecil hingga hari ini tidak dilebarkan, tentu saja saat ini sangat padat, jarak tempuh menjadi lama dan berbahaya. Segera lebarkan jalan ke Rengasdengklok. Soal pasar tumpah Rengasdengklok yang tidak pernah bisa diatasi dari Bupati ke Bupati juga saya sudah punya solusinya.

Tanya    : Apa pandangan Anda tentang angka Upah Minimum Kabupaten Karawang  (UMK) yang tertinggi seluruh Indonesia, yaitu Rp 2.987.000 per bulan?

AS           : Serikat buruh dan pemkab Karawang perlu lebih bijak dalam soal UMR ini.   Perlu Anda pahami ya bahwa konsep UMK adalah konsep komunis, apakah Anda sadar? Karyawan rajin, malas, jujur, tukang maling, disiplin, lalai, kerja teliti, kerja jorok, sama gajinya? Apa artinya itu? Itulah komunis, sama rata sama rasa. Kalau ingin mensejahterakan karyawan, tingkatkan produktivitas. Otomatis upah naik tanpa memberatkan pengusaha, jangan memaksa pengusaha membayar karyawan mahal dengan cara  demo, gembok pabrik, tutup jalan dll

Tanya    :Apa pandangan Anda tentang perizinan?

AS           :Saya ingin mengoreksi birokrat dan masyarakat kita tentang perizinan, karena telah terjadi kekeliruan atas konsep perizinan. Mereka menganggap bahwa warga atau pengusaha kalau melakukan sesuatu, misal membangun rumah atau membuka usaha wajib meminta izin dari penguasa. Ini salah besar. Saya ingatkan, bahwa Gusti Alloh saja, nu boga dunya, teu nitah saya kudu make IMB! Naha maneh musyrik ngaleuwihan Gusti Alloh, alah batan ti gusti Alloh. Nah, saya ingin memberikan pemahaman, bahwa sebagai pejabat, kita itu hanya pelayan masyarakat dalam rangka melindungi kepentingan umum, bukan sebagai sebagai raja dengan titah raja bahwa semua orang di Karawang kalau melakukan kegiatan harus izin saya… walah-walah ku hebat hebat teuing nya! Saya contohkan izin apotik yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan. Oleh karena kegiatan apotik itu berkaitan dengan nyawa manusia, maka pemerintah mengambil fungsi pengawasan apakah apotik ini ada apotekernya, asisten apotekernya, timbangan miligramnya (untuk meracik obat, jangan sampai dikira-kira karena timbangan milligram tidak tersedia), ada wastafel dan ketersediaan airnya supaya bekas racikan terdahulu dicuci sehingga tidak terjadi kontaminasi, ada lemari terkunci untuk mencegah penyalahgunaan obat yang mengandung narkoba, kalau ceklis ini dipenuhi, kita sebagai pejabat wajib memberikan izin, tidak boleh mencari alasan mempersulit atau diperlama. Inilah fungsi ideal pejabat pemerintah dalam penerbitan perizinan.

Menurut pak Aking , perlukah  meningkatkan pendapatan aseli daerah (PAD) dengan meningkatkan tariff atau pungutan ke masyarakat?

AS           : Ooh, tidak. Kalau daerah mencari uang dengan cara kekuasaan meningkatkan pajak atau pungutan mah, yang jadi Bupati ga perlu sekolah tinggi, ga perlu pintar. Bupati harus mencari sinergi agar keuangan daerah tercukupi untuk pembangunan, namun tanpa menimbulkan beban tambahan untuk rakyat.

Tanya    :Apa pandangan Anda tentang banjir di Karawang?

AS           :Elevasi kota Karawang 16 meter di atas permukaan laut, jadi, secara teknis, air itu menggelontor ke utara (laut Jawa), melalui saluran utama kali Citarum. Ada 3 hal yang harus dikoreksi untuk mencegah banjir di kota Karawang, (1). Dulu,  sampai awal tahun 1980-an, Citarum,  sering diambil pasirnya untuk bahan bangunan, namun sekarang masyarakatnya malas dan kualitas pasirnya terkena limbah, sehingga nilainya rendah dan tidak diambil oleh masyarakat, sehingga terjadi pendangkalan. Citarum mah deet ayeuna. Jadi, langkah pertama, Citarum harus diperdalam, (2). Sungai Cibeet adalah sungai alam yang tidak memiliki bendungan besar (bendung Cibeet ukurannya kecil), penggundulan hutan di Kecamatan Pangkalan dan Tegalwaru, serta air dari Cipamingkis Bogor, menyebabkan debit Cibeet membesar, sehingga di perlintasan Tanjungpura, arus Cibeet lebih kuat daripada Citarum karena Cibeet lurus sedangkan Citarum berbelok, (3). kalau pada saat yang sama, daerah aliran sungai dari jatiluhur ke Karawang banyak yang gundul dan air menggelontor bebas ke Citarum, maka debit Citarum juga meninggi dan tertahan oleh arus Cibeet, airnya luber (lentab) dan menggenangi sekitar tanggul. Jadi 3 hal ini yang harus kita amankan.

a-4

Kalau banjir di daerah Pakisjaya  dan Cilamaya serta Tempuran, lebih karena elevasinya yang memang rendah, tentu harus dipikirkan konsep pembetulan yang lain.

Tanya    :Bagaimana pandangan Anda tentang kualitas pendidikan kita?

AS           :Mungkin Anda tahu bahwa saya mendirikan sekolah TK-SD-SMP (dan nanti SMA) Tunas Dharma, SMK Rosma, dan STMIK Rosma. Keberadaan sekolah tersebut adalah salah satu bentuk keprihatinan saya tentang kualitas pendidikan di Karawang dan di Indonesia pada umumnya. Anak-anak lulusan sekarang kurang memperoleh materi pendidikan yang baik, dan ini menyebabkan kualitas lulusannya tidak memadai. Kita harus mengusahakan agar anak-anak Karawang memiliki kualitas yang bagus dan diterima di industri.

Tanya    : Apakah Anda menginginkan agar warga aseli Karawang memperoleh pekerjaan di kampungnya sendiri?

AS           :Saya mengkritisi Perda No. 1 tahun 2011 tentang keharusan pabrik di Karawang menerima 60% karyawan aseli Karawang. Ini peraturan yang ilogikal dan penghinaan terhadap saya sebagai warga aseli Karawang. Kita warga aseli Karawang, direkrut kerja di pabrik karena kemampuan kita, bukan karena orang Karawang. Karyawan dan pabrik saling membutuhkan, kita butuh gaji, pabrik butuh tenaga kita. Kalau tenaga kita tidak terpakai, ya tidak usah kerja di sana, adalah keliru kita memaksa pengusaha menggaji kita padahal tenaga dan kemampuan kita tidak terpakai.

Tanya    : Apa pendapat Anda tentang isu  pemimpin non Muslim di populasi yang mayoritas Muslim?

AS           : Begini Dik, masyarakat ini berkembang dan dinamis, demikian juga komunitas Muslim, beberapa waktu lalu, komunitas Muslim mungkin diperalat oleh kelompok tertentu untuk tujuan politiknya, padahal konsep amirul Mukminin (orang Islam hanya boleh dipimpin oleh orang Islam), konteks sejarahnya berbeda. Di zaman Nabi, hanya ada 2 kelompok, yaitu orang Muslim yang beriman dan baik ahlaknya dan dipimpin langsung  oleh Nabi Muhammad, diperlawankan dengan kaum Quraisy yang memang jahat ahlaknya, ya tentunya Nabi Muhammad mengarahkan agar orang Mukmin jangan dipimpin oleh orang Quraisy (non Muslim) yang zolim. Selain itu, pada zaman itu, pimpinan agama bercampur (menjadi satu) dengan pimpinan sosial politik, sedangkan dalam kondisi sekarang, pimpinan agama terpisah dengan pimpinan sosial politik. Dari segi sosial politik, status agama pemimpin sosial politik, tidak menjadi hal penting, karena target yang dilihat, apakah pemimpin sosial politik ini mampu bekerja, jujur, amanah, berlaku adil, membawa kenyamanan bagi semua agama.  Nah, untuk kepentingan politik, isu ini diperluas oleh kelompok tertentu, dikemas secara lain. Perkembangan zaman dan fenomena adanya partai agama yang korup, bahkan proyek Alqur’an saja dikorupsi, telah membuat masyarakat Muslim berpikir lebih realistik  dan sederhana, bagi mereka, yang penting pemimpin itu punya 2 kapasitas utama: mampu bekerja dan amanah, yang pada gilirannya membawa kesejahteraan dan kemaslahatan umat yang tentunya adalah tujuan agama Islam juga.

Tanya    : Banyak Bupati yang sering berkeliling menghadiri acara seremonial, bagaimana kalau Anda menjadi Bupati, apakah akan sering menghadiri acara seremonial?

AS           : Menghadiri acara seremonial sih ya bagus bagus saja. Namun, jangan  melalaikan tugas utama kita yang seabrek-abrek. Menjalankan tugas sebagai Bupati Karawang itu sangat sulit lho Dik. Dengan penduduk hampir 3 juta orang, tingkat pendidikan yang beragam, multi etnis apalagi karena banyak pendatang, wilayahnya luas. Banyaknya pengangguran, banyaknya LSM. Kalau jadi Bupati Karawang, tapi masih sempat main golf, motor cross, karaokean, wah, itu indikasi menelantarkan tugas.

Tanya    : Apa konsep dan pandangan Anda terhadap perbedaan agama?

AS       : Perbedaan agama adalah facts of life, dan kita tidak bisa menawar. Orang tidak bisa minta dia dilahirkan di mana, kalau seseorang lahir di komunitas Islam, misalnya, tentu 95%  kemungkinannya, orang tersebut menjadi Muslim. Jadi, menjadi penganut agama tertentu tidak perlu dipersoalkan. Dalam hubungan antar manusia, kedepankanlah nilai kemanusiaan, humanity, karena nilai kemanusiaan adalah nilai universal yang laku di mana-mana. Misal, Anda tanya temen yang Muslim, apakah dia menyukai oang yang rajin, kerja teliti, sopan, jujur, disiplin, hormat, lemah lembut? Pasti jawabnya ya!, Nah kalau ditanyakan ke orang Kristen, Buddha dll? Jawabnya ya juga, maka marilah kita kedepankan nilai kerajinan, kejujuran, kerja teliti, disiplin, hormat, lemah lembut dll.

Tanya    : Bagaimana konsep Anda untuk mengentaskan kemiskinan sebagian masyarakat Karawang?

AS       : Kemiskinan yang terjadi sekarang adalah kesalahan kita bersama, ya salah pemerintahnya, salah masyarakatnya juga. Namun, Pemerintah sebagai organ yang memiliki kekuasaan, mempunyai posisi yang menyetir masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah  harus kreatif memberdayakan masyarakat Karawang agar sejahtera. Upaya ini tentunya harus dengan dukungan seluruh elemen masyarakat. Saya sudah punya banyak konsep tentang ini, misalnya penanganan pasca panen padi, jagung untuk pasokan ke Charoen Pokphan yang pabriknya di Dawuan, mosok kita punya tanah luas, nganggur, air irigasi berlimpah, jagung saja harus impor, perikanan darat juga potensi, belum lagi bangkitan ekonomi karena keberadaan pabrik di Karawang yang terus bertambah. Contoh lain,   pembentukan pasar singkong di Karawang. Kalau Anda mengerti makro ekonomi, begini penjelasannya: Kalau Anda bertanam padi di Karawang, Anda tidak takut tidak ada yang membeli hasil panennya, pasti ada tengkulak yang membeli dengan harga pasar, namun kalau anda panen singkong, sulit menjualnya, karena di Karawang tidak ada pasarnya. Dijual ke pedagang pasar, dihargai murah sekali, tidak dijual membusuk. Sehingga posisi tawar pekebun menjadi lemah, terima nasib. Saya akan menciptakan terbentuknya pasar Singkong di Karawang, supaya setiap jengkal tanah di Karawang tidak ada yang nganggur, dan perlu Anda ketahui, hasil panen singkong jauh berlipat nilainya ketimbang padi. Kalau pasar singkong terbentuk, ibu rumah tangga tidak nganggur lagi, mereka bisa berkebun di pekarangan rumah dan menghasilkan uang penambah nafkah keluarga.

Apa pandangan  Bapak terhadap bidang lainnya?,

Kalau boleh saya kemukakan, antara lain :

1.       Bidang politik

Kesadaran bernegara kita harus dipulihkan. Sebagian dari kita tidak mengerti  konsep kenegaraan. Kita sudah kehilangan arah, masyarakat, politisi, pemimpin negara kita sudah kurang memahami mengapa kita perlu bernegara. Ketidakpahaman ini mengejawantah dalam sikap para polisi, hakim, jaksa, pejabat pelayanan publik, seperti Kantor Pertanahan (BPN), pelayanan IMB, dll. Para pejabat tersebut terindikasi tidak cukup mengerti fungsi mereka. Demikian juga para anggota masyarakat tidak mengerti fungsi pejabat negara, sepertinya para pejabat negara tersebut adalah penguasa, padahal idealnya, pejabat  negara adalah pesuruh rakyat.  Sebagian Lembaga Swadaya Masyarakat juga tidak mengerti  fungsi LSM. Sebagai contoh, ada LSM yang mendatangani perusahaan dan mempertanyakan perizinan, dengan mengatakan bahwa hal itu dalam rangka kontrol sosial. LSM tersebut lupa, bahwa dalam bernegara, tidak dimungkinkan suatu kelompok masyarakat mengontrol masyarakat lainnya. Kalau itu yang terjadi, tentu akan terjadi konflik, siapa mengontrol siapa. Lama-lama berantem. Menurut konsep kenegaraan, rakyat mengontrol DPR, DPR mengontrol pemerintah, dan pemerintah mengontrol (regulasi) terhadap masyarakat.

2. Bidang pendidikan.

Kualitas lulusan lembaga pendidikan kita sangat terdegradasi. Banyak lulusan SMP atau SMA tidak bisa menghitung 9x9,misalnya. Banyak lulusan SMA dan sarjana tidak bisa berbahasa Indonesia secara tepat.  Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang sekarang berjalan, materinya berlebihan dan keliru. Materi S-1 diajarkan di SMA, materi SMA diajarkan di SMP, materi SMP diajarkan di SD, padahal secara pedagogis, itu keliru.  Syukurlah, pada saat ini peran Ujian Nasional tidak menjadi patokan lulus. Dari awal saya tahu konsep Ujian Nasional adalah keliru, karena membebani Negara, pejabat, masyarakat, murid, orang tua murid, dan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.  Life skill generasi sekarang sangat rendah.  Kalau kondisi ini tidak segera dikoreksi, kita tinggal menerima nasib, bagaimana kualitas bangsa kita beberapa puluh tahun mendatang.

3. Bidang birokrasi pemerintahan

Penyusunan anggaran pemerintah yang keliru, serapan anggaran yang rendah, pelayanan perizinan yang lama, dipersulit, bagaimana kita mengubah sikap pelayanan publik: semboyan sebagian pegawai negeri kita harus diubah, dulu mereka bersikap: kalau bisa dibikin susah, mengapa dikasih gampang, seharusnya kita memberikan kemudahan kepada siapa pun, yang justru berpahala. Budaya SMS (Senang Melihat orang lain Susah, Susah Melihat orang lain Senang) harus dibuang.

4. Bidang ekonomi dan Kewirausahaan

Membangun kewirausahaan,  memberdayakan agar penduduk aseli Karawang menikmati kue kemajuan Karawang secara terhormat. Mengoreksi sikap masyarakat yang mengharap hasil instan, padahal semua prestasi saat ini, diperoleh melalui serangkaian proses yang panjang.

5.  Bidang Perburuhan

Pemahaman konsep hubungan pekerja dengan majikan, konsep outsourcing, konsep Upah Minimum Regional (UMR). UMR adalah konsep komunis, karyawan rajin atau malas, jujur atau maling, teliti atau jorok, lalai atau bertanggung jawab, semua sama gajinya, ini adalah konsep keliru. Seharusnya kita mengedepankan produktivitas, kalau produktivitas tinggi, tentu upah juga akan tinggi, tidak perlu memperjuangkan UMR yang berujung pada adu kekuatan dengan pengusaha, untuk apa? Pemogokan, apalagi yang anarkis, hanya memperlemah kekuatan ekonomi kita, seharusnya kita mencari harmoni antara pekerja dengan pengusaha.  Filosofi Kekaryawanan juga harus dibangun secara tepat, pekerja jangan salah didik, filosofi kekaryawanannya.

6. Filsafat dan budaya

Filsafat dan budaya nenek moyang yang telah ditinggalkan oleh generasi sekarang, harus dipulihkan demi peningkatan jati diri bangsa.  Ilmu pengetahuan berkembang karena adanya filsafat. Sekarang, filsafat malah dibunuh oleh penanaman konsep dogmatis yang tumbuh subur di masyarakat.

7. Hubungan antar penganut agama.

Konsep keberagamaan yang sehat. Agama untuk manusia, bukan manusia untuk agama. Bagaimana mengedepankan  nilai humanity yang  adalah universal   dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Humanity adalah nilai universal yang diterima oleh semua kelompok masyarakat, agama apa pun, etnis apa pun. Sementara, nilai-nilai agama terkadang  hanya diterima oleh kelompok tertentu, dan tidak diterima di kelompok lain.

Tanya   : Anda pernah sekolah jurnalis, adakah pesan untuk para jurnalis Karawang?

AS           : Jangan campur adukkan reportase dengan opini, sesuai pelajaran jurnalistik. Kalau kita membuat reportase, jurnalis jangan memasukkan bahasa yang menilai orang naik atau buruk. Reportase adalah potret suatu peristiwa, biarlah pembaca yang menilai,  seorang jurnalis tidak boleh  menggiring opini masyarakat.

Aking Saputra, lahir di Cinangoh, Kel. Karawang Wetan, Karawang Barat, tahun 1963, Sekolah di SD Negeri Kujang II (sekarang SDN Karawang Wetan), SMP N I Karawang, SMAN I Karawang, S-1 dan S-2 Fakultas Hukum Universitas Indonesia, pernah menjadi pedagang asongan, pelayan toko, kini sebagai notaris, pengusaha, tinggal di Jl. Tuparev Karawang.(nji)

 

Category: Karawang, PeristiwaTags:
No Response

Leave a reply "Forum Gabungan Masyarakat Karawang Meminta AKING SAPUTRA, S.H., MKn, Menjadi KARAWANG 1"