Komunitas Sunda Karawang, KIS Kobarkan Semangat Ke-Sunda-an

Karawang, KTD- Teknologi makin hari makin canggih. Teknologi juga yang membawa budaya-budaya asing masuk ke Indonesia. Sehingga, tak luput, bangsa Indonesia menjadi lupa pada akar budayanya.
Yang demikian itu bukan isapan jempol! Contohnya, sekarang anak-anak sudah tidak lagi tertarik bermain engkle, kaleci, bon-bonan, dan panggalan. Justru, mereka lebih tertarik pada gadget dengan fitur-fitur dan aplikasi yang memang mengasyikkan. Belum lagi, serbuan game-game yang sulit ditampik keseruannya oleh banyak anak. Tak pelak, mereka ‘kecanduan’ dan cenderung individualistis.
Tak cuma itu, tren busana pun tak ketinggalan dirambah budaya asing ke Indonesia. Mereka menyuguhkan hot-pants, you can see, rok mini, dan pakaian-pakaian lain yang dinilai ‘modern’. Alhasil, mode busana asli Indonesia tersisisihkan. Katakanlah, meski batik sekarang mulai “in” lagi, namun itu tak lebih dari “cubitan” Malaysia yang ingin mencuri batik dari bangsa ini. Sehingga, kita buru-buru “mematenkan” hak milik batik tersebut.

“Kita (budaya ibu, red) dikepung dari berbagai penjuru. Budaya-budaya mereka (bangsa asing, red) menyudutkan kita di tepi jurang,” ujar Ahmad Husain, bendahara Komunitas Iket Sunda (KIS) beberapa waktu lalu.

Menurutnya, budaya-budaya lokal dan juga permainan-permainan tradisional, tidaklah kalah nge-trend dan tidak kalah mengasyikkan ketimbang budaya dan permainan bangsa asing. Ia berpendapat, budaya dan permainan nusantara mengajarkan nilai-nilai adiluhung yang sarat dengan norma dan nilai luhur. “Malahan permainan tradisional mengajarkan kekompakan dan kerja sama yang solid,” tambahnya.

Ia beserta komunitasnya memang bergerak atas dasar keprihatian melihat orang-orang, khususnya anak muda, yang mulai meninggalkan wariasan leluhurnya. Dia memandang, kaum muda hari ini cenderung tenggelam dalam hedonisme dan sikap individualistis.
Komunitas Iket Sunda (KIS) sendiri memiliki visi yang terbilang luar biasa. Yaitu, “menyundakan Jawa Barat kembali”. Menurutnya, orang Sunda sekarang sudah tidak lagi “sunda”. Dia mengambil contoh, banyak orang Sunda dalam bercakap-cakap, kelihatan mencampur-adukkan bahasa, khususnya bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda. “Istilahnya gado-gado. Jadi,sekarang, orang Sunda kalau ngomong begini: kamu teh mau makan naon?,” katanya sambil terkekeh-kekeh.
iket

Menurutnya, hal-hal semacam itulah yang menjadi barometer bahwa Sunda sudah tidak lagi “nyunda”. Entah ini memang sudah kodrat atau mungkin tidak, yang terlihat sekarang adalah seperti itu kenyataannya.
KIS sendiri terbentuk pada 6 Oktober 2013. KIS bukanlah lembaga sosial masyarakat (LSM), bukan juga ormas, ataupun kelompok-kelompok tendensius lainnya. KIS hanyalah sekumpulan orang-orang yang prihatin akan nasib budaya Sunda sehingga meluangkan waktu dan tenaganya untuk membangunkan kembali gairah kebudayaan sunda.
“Bagi siapa saja yang juga prihatin dan ingin punya andil dalam keeksistensian budaya Sunda, bisa menghubungi kami (KIS) di kesekretariatan Saung Beureum, Rengasdengklok,” pungkasnya. (Las)

Category: Budaya, Karawang
No Response

Leave a reply "Komunitas Sunda Karawang, KIS Kobarkan Semangat Ke-Sunda-an"