Ade Komaruddin Sosialisasikan Empat Pilar Di SMK Yaspif Cibuaya

sosialisasi empat pilar

KTD-Negara Kesatuan Republik Indoensia didirikan dengan basis kemajemukan masyarakat yang ada. Baik dari ragamnya Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Sehingga, kalaupun saat ini hal isu SARA masih dipertentangkan, tentu merupakan kepicikan pola pikir.

“Bhinneka Tunggal Ika merupakan bukti kedewasaan berpikir dan berperilaku pendahulu kita. Jadi kalau saat ini masih saling mempertentangkan SARA, itu pola pikir yang picik,” ungkang Ujang Komaruddin yang mewakili anggota DPR-RI, Ade Komaruddin saat mensosialisasikan empat pilar kebangsaan di SMK Yaspif Cibuaya.

Ditambahkannya, dalam konteks berbangsa dan bernegara kita, diharapkan masyarakat harus berpikir dalam skala makro dan golbal. Akan tetapi, harus tetap berpijak pada norma dan etika budaya lokal yang menjadi identitas diri bangsa Indoensia. “Globalisasi ini, membuat batasan negara bangsa hanya secara administratif saja. Jadi kita harus secara sadar adaptasi dengan kemajemukan bangsa dengan berpikir global, tapi bertindak lokal dengan berkontribusi bagi bangsa dan negara,” imbuhnya.

Ujang menambahkan, seluruh warga negara mempunyai hak yang sama dimata hukum dan perundang-undangan. Sehingga, dimata hukum, tidak ada yang lebih tinggi antara suku yang satu dibanding yang lainnya.

“Nilai-nilai Pancasila yang tidak membeda-bedakan asal usul Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARAS) warga negara harus diimplementasikan. Sosialisasi ini, diharapkan tidak terjadi pengkotak-kotakan bagi warga negara yang ingin berkontribusi dalam pemerintahan. Meskipun warga Negara Indonesia sangat majemuk, tetapi mempertahankan NKRI menjadi kewajiban dan harga mati,” terangnya.

Dijelaskan Ujang, dalam perjalanan bangsa akhir-akhir ini, rasa kebangsaan dan persaudaraan warga Negara mulai luntur. Sehingga, kata dia, perlu untuk lebih ditingkatkan lagi disosialisasikan empat pilar kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Dulu waktu sekolah pelajaran Pancasila menjadi pengetahuan wajib dan juga ada program penggalakan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) kerap dilalukan, sehingga rasa kebangsan tinggi. Tapi, sekarang ini, sikap toleransi dan kemanusiaan cenderung melemah, sehingga diperlukan sosialisasi bagi masyarakat,” imbuhnya mewakili Ade Komaruddin.

Dalam pemaparan sosialisasi kali ini, Ujang juga memaparkan beberapa perubahan amandemen UUD 1945 kepada 152 siswa SMK Yaspif yang hadir. Sebagai contoh tidak adanya lagi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sebagai salah satu lembaga negara. Dimana, oleh kalangan siswa SMK Yaspif, lembaga DPA menurutnya masih ada dan belum ditiadakan.(may)

Category: Daerah, Karawang, Pelayanan Publik, PolitikTags:
No Response

Leave a reply "Ade Komaruddin Sosialisasikan Empat Pilar Di SMK Yaspif Cibuaya"