Sekjen FSGI Sebut Pergantian USBN Terburu-buru

usbn-1

Karawang, KTD-  Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti menyebut pergantian Ujian Nasional (UN) menjadi UJIAN  sekolah berstandar nasional (USBN) dianggap terburu-buru. Padahal menurutnya,  terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan dalam USBN sehingga tidak membuat siswa dan sekolah kaget di tahun pertama pelaksanaannya.

“USBN dianggap mendadak, padahal sebenarnya masih ada waktu enam bulan. Yang diujikan tidak perlu semua pelajaran dulu, tetapi cukup pelajaran yang di-UN-kan,” tuturnya ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, baru-baru ini.

Retno menjelaskan, bentuk soal USBN juga sebaiknya tidak langsung ada esainya. Sebab, mengoreksi soal esai sendiri tidak mudah, sehingga perlu ada korektor satu dan dua. Itu semua, lanjut dia, perlu dilihat kesiapan guru di daerah-daerah.

“Kalau membuat soal guru-guru sudah terbiasa. Tinggal disesuaikan kesulitannya mau seperti apa. Penyesuaian ini tidak masalah untuk guru. Namun, ke depan tentu guru tetap harus terus dilatih,” paparnya.

Terakhir, standar kompetensi lulusan (SKL) jangan diubah-ubah lagi. Sebab, setiap guru sudah mengajarkan materi kepada siswa sesuai dengan SKL yang diberikan.

“Dengan begitu ketika rapat kelulusan siswa guru-guru bisa berdebat, tidak hanya berdasar pada nilai UN. Anak yang nilai UN tinggi, belum tentu lebih baik,” pungkas Retno.

Perlu diketahui sebelumnya, USBN digadang-gadang menjadi pengganti ujian nasional (UN). Sayangnya, usulan moratorium UN justru tidak disetujui oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam rapat kabinet paripurna. (Panji/Net)

 

 

Category: Pendidikan
No Response

Leave a reply "Sekjen FSGI Sebut Pergantian USBN Terburu-buru"