Bukti Ada Transaksi Politik, Obral Menteri Sebelum Pilpres

pasangan capres

Jakarta,KTD- Transaksional politik memang ada terjadi. Buktinya, menyusul deklarasi koalisi masing-masing capres, wacana kabinet menyeruak. Meski tidak ada kabar resmi, nama-nama calon menteri beredar di kedua poros.

"Fenomena tersebut merupakan hal yang biasa terjadi di negara-negara demokrasi di dunia. Formasi kabinet menjadi bahan bancakan politik yang bersifat transaksional dari para elit parpol pengusung atau peserta koalisi," ujar pengamat komunikasi politik dari Universitas Nasional, Robi Nurhadi, Jumat (30/5/14).

Menurut Robi, transaksi politik dalam sistem demokrasi mungkin saja wajar. Namun belum tentu sesuai dengan harapan rakyat. Sebagian masyarakat di Timur, kata dia, fenomena bagi-bagi kekuasaan memberi kesan yang kurang etis karena mengesankan Pilpres sebagai ajang perebutan dan bagi-bagi kekuasaan.

"Saya melihat hal tersebut dilakukan oleh kubu Prabowo ataupun kubu Jokowi, hanya saja cara mengemasnya yang berbeda," imbuh Direktur P3M Unas ini.

Kubu Prabowo menurutnya lebih terbuka, sedangkan kubu Jokowi lebih tertutup. Dilihat dari komunikasi politik, kubu Jokowi terlihat lebih santun dalam urusan bagi-bagi kekuasaan.

"Tentu ada plus-minus dari cara kedua-duanya. Dengan caranya, kubu Prabowo mendapatkan dukungan politik lebih banyak dibanding kubu Jokowi. Sedangkan cara Jokowi lebih simpatik dibanding cara Prabowo," tuturnya.

Kedua cara tersebut lanjut doktor lulusan Malaysia ini, punya latar belakang dan alasan masing-masing yang umumnya terkait dengan faktor idiosyncratic dari para capres.

"Plus minus tersebut tidak selalu berkorelasi positif terhadap kemenangannya pada Pilpres nanti, meskipun cara mereka mengusung 'Kabinet' akan berpengaruh pada perolehan suara," ucapnya.(bbs)

Category: PolitikTags:
No Response

Leave a reply "Bukti Ada Transaksi Politik, Obral Menteri Sebelum Pilpres"