Penolakan Eksploitasi Pertambangan di Karawang Selatan Makin Kencang

Nampak seorang pelajar sedang berjalan di samping spanduk dukungan 1 juta warga Karawang selamatkan karst Pangkalan terlihat di jembatan penyeberangan Mall Matahari.

Salah satu spanduk di seputaran Mega M berisikan penolakan pertambangan di Karawang Selatan. (Yuda)

Karawang, KTD- Ramainya isu tentang pertambangan di Karawang Selatan pasca keluarnya Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) nomor 1204 K/30/MEM/2014 Tentang Penetapan Wilayah Pertambangan Pulau Jawa dan Bali,menimbulkan fenomena kencangnya gerakan penolakan pertambangan.

Penolakan itu datang dari berbagai elemen masyarakat di Karawang. Mereka memnafaatkan fasilitas   media sosial, bahkan dengan  pemasangan spanduk.

Di salah satu jejaring  sosial seperti facebook ada salah satu akun fanspage, yakni 2 juta relawan menolak eksploitasi kawasan karst. Isinya banyak ditampilkan foto- foto dukungan masyarakat Karawang tentang penolakan pertambangan di Karawang Selatan.

Sementara itu, selain di jejaring  sosial, tampak beberapa penolakan serupa di beberapa lokasi seperti di jembatan penyebrangan Mall Matahari dan di pagar depan kantor Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Karawang.

Dalam spanduk tersebut pada pojok kiri terdapat logo gerakan rakyat pemantau korupsi serta pojok kanan terdapat logo letusan emosi anak Karawang dan pada tengahnya berisikan dukungan sejuta warga Karawang selamatkan karst Pangkalan.

Fenomena tersebut sebagai bentuk menentang rencana wilayah pertambangan di Karawang Selatan, tepatnya di Desa Tamansari Kecamatan Pangkalan.

Salah satu pemerhati lingkungan di Karawang, Hendro Wibowo  yang juga  Ketua Harian di Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Citarum (ForkadasC+) menjelaskan,bahwa banyak masyarakat dan pemerhati lingkungan di Karawang menentang adanya pertambangan di Karawang Selatan. Alasannya, karena  elevasi kemiringan wilayah Karawang Selatan dibandingkan Karawang lebih dari 45 derajat.

“Sehingga menyimpan potensi kebencanaan sangat besar,” ujar Hendro.

Di tempat terpisah, Andhi Wibisono, pemerhati lingkungan dari Komunitas Aktifis Lingkungan, Mapag Sanggabuana mengatakan, bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah yang memiliki kekayaan alam cukup melimpah.

“Karawang Selatan adalah wilayah yang memiliki kekayaan alam yang cukup melimpah. Mulai dari sumber airnya, batu kapur, batu kali, pasir dan banyak lagi yang lainnya” jelasnya kepada karawangtoday.com, Sabtu (31/5/14).

Sejak dulu, lanjutnya, kekayaan alam di Karawang Selatan sudah jadi incaran para investor asing, khususnya di bidang pertambangan. Kondisi demikian lantaran wilayah Karawang Selatan memiliki kawasan Karst atau batu kapur terbaik di Indonesia. Batu kapur itu merupakan bahan baku semen.

“Dua puluh tahun lalu, hingga sekarang penambangan batu kapur sudah terjadi di Karawang Selatan. Namun masyarakat penambang setempat tempo dulu  masih menjaga keseimbangan lingkungannya. Mereka masih  memakai kearifan lokal dan masih menggunakan alat penambangan tradisional. Berbeda dengan penambangan saat ini, alat-alat berat digunakan untuk mengambil batu kapur, tanpa memperhatikan lingkungan di sekitar. Kondisi itu semakin tidak terkendali bahkan mengancam daur hidrologinya,” ujarnya. (yfs)

Category: Karawang, PeristiwaTags:
No Response

Leave a reply "Penolakan Eksploitasi Pertambangan di Karawang Selatan Makin Kencang"