Seniman Karawang Kritik Pementasan Dangiang Subang Larang

Karawang, KTD- Pementasan DSL (Dangiang Subang Larang) untuk Tahun 2017 memasuki tahap akhir. Persembahan seni ini, menyisakan berbagai macam pendapat dan perbincangan. Baik yang berkesan positif maupun negatif, entah segi teknis, penyuguhan, penggarapan maupun dari segi pendanaan.

“Sebagai konseptor dan sutradara, walaupun pada prakteknya, sebagai sutradara, posisi saya seringkali dilangkahi personil DSL yang lain. Dari berbagai macam pendapat itu, ada beberapa hal yang menggelitik, sehingga saya perlu menanggapinya secara serius,” ungkap Abah Sarjang saat diwawancarai, Sabtu (2/12) siang.
Sebagai sebuah pementasan, Sarjang menganggap DSL berhasil. Kolaborasi musik, tarian dan cerita yang mengisahkan seorang tokoh bernama Nay Subang Larang mengundang perhatian masyarakat pada setiap penampilannya. Namun ia melihat, selain nilai plusnya, tentu DSL juga tidak terlepas dari minusnya.
“Koordinasi yang tumpang tindih, sempitnya pemahaman, mengakibatkan kurangnya penghargaan pada sebuah karya. Dengan pertimbangan waktu dan pembiayaan, kadang-kadang pihak EO hanya mengambil sepotong dari keseluruhan DSL untuk ditampilkan pada satu acara. Sebuah pertunjukan bisa dinikmati dan dipahami, jika ditampilkan secara utuh. Kalau pertunjukan DSL dipotong-potong, apa bedanya dengan celana panjang yang dirubah jadi hot pant. Mungkin sang pemotong ingin mempersembahkan DSL agar tampil lebih sexy, sehingga dengan seenaknya dipotong-potong, tanpa mempertimbangkan logika, etika dan estetika,” beber Sarjang.
Banyak suara sumbang dari berbagai kalangan, tentang kreasi DSL yang masih melibatkan orang luar. Ia mencontohkan, pementasan DSL yang telah berjalan satu tahun ini, melibatkan orang-orang di luar Karawang. Ada tiga lagu yang dibawakan dalam pementasan DSL, dua lagu ciptaan orang Karawang, satu lagi ciptaan seniman Bandung.
“Selain itu penata tarinya juga mengambil tim ahli dari luar Karawang. Secara ikatan emosional dan pengeksekusian konsep, saya pribadi merasa nyaman dan sejalan dengan penata tarinya. Karena beliau sudah sangat professional di bidangnya. Namun keberadaan beliau telah menutup kesempatan para penata tari Karawang untuk menunjukkan kreasi mereka di DSL. Jadi wajar kalau beberapa kalangan, baik itu seniman, budayawan, politikus, pengamat dan penikmat seni juga pengusaha, menganggap orang-orang yang membanggakan DSL adalah orang yang "agul ku payung butut",” paparnya.
Tahun 2018 pementasan DSL akan berlanjut. Pihak banggar DPRD telah mengetuk palu tanda setuju. Apakah pementasannya akan tetap seperti ini? Ia menjawab tidak. Kalau memang Bupati memiliki kepedulian yang nyata pada seniman Karawang, Ia mengharapkan pementasan Dangiang Subang Larang selanjutnya, bersih dari campur tangan orang lain, yang bukan orang Karawang.
“Saya bukan hendak menyebarkan fanatisme kedaerahan, tetapi ingin memberikan kesempatan pada putra-putri Karawang untuk menunjukan karyanya. Banyak penata tari muda yang berprestasi dan telah memiliki hasil karya, tetapi pemerintah kurang meliriknya. Banyak pencipta lagu jaipong asli orang Karawang, sehingga tak perlu jauh-jauh ke Bandung, hanya untuk memesan sebuah lagu. Percayakan putra-putri Karawang untuk memperlihatkan kemampuannya. Beri kesempatan pada putra daerah mengembangkan kreatifitasnya. Sehingga ketika DSL dipentaskan, saya akan sangat bangga memakai kaos dengan tulisan "Karawang ogé bisa",” katanya lagi.
Ia menegaskan, pihak dinas terkait tidak perlu merasa terbebani atau takut disalahkan, bila DSL digarap secara keseluruhan oleh putra-putri Karawang.
“Saya sebagai konseptor, penulis skenario, pencipta lagu dan sutradara pada lakon Dangiang Subang Larang Ngalanglang Tatar Karawang, siap mempertanggungjawabkan tulisan ini di hadapan Bupati. Sudah waktunya urang Karawang menunjukkan eksistensinya. Jangan karena permintaan pimpinan, kita mendiskreditkan putra-putri sendiri. Berikan kesempatan, berikan ruang. Semua tahu, pembiayaan DSL anggarannya dari APBD, jadi putra-putri Karawanglah yang lebih berhak menggunakan dan memanfaatkannya,” pungkasnya. (Nji)
Category: Budaya, Budpar, Karawang
No Response

Leave a reply "Seniman Karawang Kritik Pementasan Dangiang Subang Larang"