Firasat Terakhir, Fitri Menangis di Pelukan Neneknya Sebelum Berangkat Sekolah

 

Karawang, KTD- Minggu pagi memang bukan hari aktif sekolah. Tapi Fitri Novita R (14) tetap berangkat ke sekolah karena senin (27/8) pagi besok, dia harus menjadi salah satu petugas upacara di sekolahnya. Namun tak disangka, pagi itu adalah pagi terakhir baginya. Sore harinya setelah  selesai berlatih, ia tewas tersambar Kereta Api Jayabaya dari arah Cikampek menuju Cirebon saat hendak pulang ke rumahnya di Kampung Gandong RT 02/08 Desa Pangulah selatan, Kecamatan Kotabaru Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

“Pagi sebelum berangkat ke sekolah, Fitri pamit sama neneknya. Dia salim kecup pipi kecup kening sambil menangis. Mungkin itu firasat dia mau pergi selama-selamanya,” ungkap salah satu pihak keluarga, Srika Hamidah. Cerita perpisahan di pagi hari itu, didapat dari sang nenek. Namun nenek almarhum tidak curiga apa-apa dengan tingkah fitri.

Masih cerita Srika, malam harinya saat almarhumah tengah asik melihat pertandingan sepakbola di televisi, sang nenek dari dalam kamar menyuruhnya untuk tidur.

“Tapi malah fitri bilang : Nanti aja tidurnya. Soalnya besok sudah tidak bisa nonton bola lagi,” kata Srika. Fitri memang penggemar bola. Setiap ada pertandingan sepakbola yang disiarkan secara langsung di televisi, dia tidak pernah absen menonton.

Semenjak kedua orang tuanya bercerai, ia melanjutkan, almarhumah tinggal bersama kakek dan neneknya. Sang Ibu bekerja di Taiwan. Sedangkan ayahnya pulang ke kampung halaman di Padang, Sumatera Barat. Berita duka kepergian Fitri sudah disampaikan ke kedua orang tuanya.

“Keduanya hanya bisa melihat prosesi pemakaman Fitri melalui video call. Menyedihkan sekali. Padahal dalam waktu dekat, sang ibu mau pulang ke sini sambil bawa hape seperti kemauan Fitri sambil melepas rindu karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Tapi takdir berkehendak lain,” bebernya. (nji)

 

 

Category: Peristiwa
No Response

Leave a reply "Firasat Terakhir, Fitri Menangis di Pelukan Neneknya Sebelum Berangkat Sekolah"