Puluhan Tahun Terisolir Listrik, Siswa Belajar dengan Lampu Teplok

 

Karawang, KTD- Dampak krisis listrik selama puluhan tahun di Desa Sirnabaya, Desa Sukaluyu, Desa Paseur Jaya dan Desa Wadas Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang tidak hanya dirasakan oleh masyarakat umum, namun juga siswa yang sangat dirugikan dalam kegiatan belajar di rumahnya khususnya pada malam hari. Untuk mendukung kegiatan belajar tersebut, mereka terpaksa belajar menggunakan lampu teplok.

"Ya terpaksa harus gunakan lampu teplok. Kasihan juga kalau setiap melihat anak sedang belajar, kadang dia suka mengeluh mata perih karena tidak nyaman terkena asap lampu terlalu lama. Kalau sudah begitu, saya suka suruh dia tidur dan melanjutkan belajar di pagi hari sebelum berangkat sekolah atau siang hari sesudah pulang sekolah," ungkap Ernawati (27), warga Desa Sukaluyu. Ernawati adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak yang bersekolah di MIS-AL Hidayah, Kampung Kahuripan Pejaten, Desa Sirnabaya Telukjambe Timur.

Ernawati mengungkapkan, selama puluhan tahun desanya tidak bisa menikmati listrik secara utuh. Warga bisa menikmati listrik hanya beberapa bulan saja lewat diesel yang dibeli oleh aparatur desa setempat. Sisanya, warga terpaksa harus terbiasa dengan pemandangan gelap gulita dengan hanya dibantu cahaya dari lampu teplok.

"Untuk persediaan tiga hari sekali saya harus membeli solar seharga Rp. 5.000 rupiah untuk satu lampu teplok," akunya.

Ia sangat berharap agar di desanya ada aliran listrik seperti di desa lain pada umumnya. Ia mengaku selama 13 tahun tinggal disana, tidak pernah sekalipun mendapatkan akses listrik. Bahkan tidak hanya listrik, di desanya sering kesulitan mendapatkan pasokan air bersih. Selain itu, infrastruktur jalan desa belum pernah ada perbaikan.

"Saya bingung mau mengadu ke siapa. Suka sedih karena desa saya kan deket sama KIIC. Di KIIC terang benderang, industri pesat tapi ada desa yang memiliki banyak kesulitan akses listrik, air bersih dan infrastruktur," terangnya.

Sementara Camat Telukjambe Timur, Asep Cece Juhandi membenarkan tiga desa tersebut memang belum dialiri listrik.Namun ia mengklaim setiap tahun membeli diesel berdaya 5000 watt sekadar memberikan penerangan sementara kepada warga.Dengan daya 5000 watt, diesel bisa membantu menerangi satu rumah dengan 2 bolam lampu saja. Sementara di tiga desa tersebut memiliki jumlah Kepala Keluarga (KK) berbeda, yaitu 14 KK di Desa Sukaluyu, 128 KK di Desa Sirnabaya, Desa Paseur Jaya 125 KK dan Desa Wadas 68 KK.

"Salah satu penyebab sulit mendapatkan aliran listrik karena tanah warga disini dikelola oleh pihak Perhutani. Jadi pihak PLN memang tidak bisa begitu saja memasang listri disini. Kebetulan hari ini sedang ada pertemuan antara tokoh desa, lurah, camat, pihak PLN dan pihak Perhutani dan juga ada Wakil Bupati (Wabup) Kang Jimmy membahas solusi bagaimana warga tiga desa bisa menikmati akses listrik. Semoga ada jalan terbaik karena disini ada sumber daya manusia. Dan terpenting, disini ada generasi penerus bangsa yang memiliki hak sama untuk mendapatkan pendidikan layak," pungkasnya. (nji)

Category: Pendidikan
No Response

Leave a reply "Puluhan Tahun Terisolir Listrik, Siswa Belajar dengan Lampu Teplok"