90 Tahun Sumpah Pemuda, Masih Banggakah Generasi Muda terhadap Bahasa Indonesia?

 

Karawang, KTD- Tepat 90 tahun lalu sejumlah anak muda mengikrarkan Sumpah Pemuda, antara lain menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, bahkan ketika Indonesia belum ada. Tapi apakah sumpah ini masih relevan? Masih adakah kebanggaan berbahasa Indonesia?

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Singaperbangsa Karawang, Dian Hartati mengatakan, di era kecanggihan teknologi masa kini, banyak sekalh istilah istilah kekinian yang mempengaruhi kebakuan bahasa Indonesia. Ia mencontohkan, penggunakan istilah tagar (#) yang lebih sering diterapkan oleh generasi milenial, berpengaruh terhadap gaya penulisan dan berbahasa mereka d lingkungan kampus.

“Bahasa itu kan sifatnya fleksibel ya. Bahasa bisa dengan mudah mengikuti perkembangan zaman. Namun ini juga jadi masalah karena menabrak aturan baku bahasa Indonesia itu sendiri. Bukan berarti mau menolak. Seharusnya kurikulum bisa disesuaikan apalagi saat sekarang sudah masuk ke era industry 4.0. Generasi masa kini juga memiliki cara bertahan sendiri. Kita tidak bisa menghindari era baru itu,” ungkap Dian saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Selasa (30/10) siang.

Lulusan Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat (Jabar) ini mengaku selalu berusaha menerapkan bahasa Indonesia terhadap mahasiswanya pada saat pembelajaran kelas. Menurutnya, Bahasa Indonesia bisa digunakan sebagai alat untuk mengenali budayanya dan menemukan ke-Indonesiaannya.

“Saya sering menekankan agar mahasiswa bangga memiliki bahasa Indonesia karena tidak semua Negara memiliki identitas bahasanya sendiri. Kalau sudah lepas mata kuliah, mereka lebih sering menggunakan bahasa daerah atau bahasa ibu. Banyak juga yang lebih suka menggunakan bahasa gaul,” akunya.

Menurutnya, untuk membuat anak-anak muda merasa bangga berbahasa Indonesia, mereka harus tahu apa yang bisa dibanggakan dari bahasa itu. Anak-anak muda harus diajari betapa beragamnya budaya Indonesia, dengan sejarah yang kaya, dan bahasa-bahasa daerah yang indah.

"Mereka harus bangga bernegara terlebih dahulu, baru bisa bangga berbahasa," kata dia.

Selanjutnya, jangan sampai mahasiswa salah memposisikan dirinya sendiri ketika menggunakan bahasa Indonesia. Mereka harus bisa melihat situasi dan kondisi dan menyesuaikan bahasa tersebut penggunaanya untuk siapa dan saat menghadapi peristiwa apa.

“Bahasa Indonesia kaitanya dengan sumpah pemuda itu sangat penting dan wajib diwariskan,” pungkasnya. (nji)

 

 

 

 

Category: Budaya, Karawang
No Response

Leave a reply "90 Tahun Sumpah Pemuda, Masih Banggakah Generasi Muda terhadap Bahasa Indonesia?"