Perjalanan Syekh Quro di Karawang

0 6839
Tempat terdapatnya Batu Al- Qur'an

Tempat terdapatnya Batu Al- Qur'an. (Foto: Yuda)

Karawang, KTD- Menurut Babad Syekh Quro yang ditulis oleh K.H Tubagus Abdul Halim Majalengka disebutkan bahwa Syekh Quro mengunjungi Karawang pada tahun 1410 Masehi. Ulama besar ini melalui aliran sungai Citarum dan bertengger di Pelabuhan Karawang yang berada di Kampung Teluk Bunut atau saat ini berada di sekitar ujung Jalan Kaum 1 untuk pelabuhan sebelah hilir dan di kampung Jebug untuk pelabuhan sebelah hulu.

Syekh Quro nama aslinya  Syekh Hasanuddin. Beliau merupakan putera Syekh Yusuf Siddik yang memiliki garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaludin ulama besar Mekah. Bahkan menurut sumber lain garis keturunannya itu menantunya Nabi Muhammad Rosulullah S.A.W. Syekh Yusuf Siddik ayah Syekh Quro adalah merupakan ulama besar pimpinan pengurus Islam terkenal di daerah Campa termasuk wilayah Kamboja.

Lokasi mengajinya Syekh Quro

Lokasi mengajinya Syekh Quro. (Foto: Yuda)

Syekh Hasanuddin yang digelari Syekh Quro itu adalah seorang ulama yang dalam ilmunya dan seorang Hafidzh Al Qur’an juga seorang Qori ( Pembaca Al Qur’an) yang memiliki suara yang merdu. Dari Campa, dirinya berlayar ke Malaka sebab daerah ini menjadi pusat penyebaran agama Islam sejak awal abad XV. Di kota Malaka ini beliau memberi pelajaran ilmu agama Islam.

Suatu ketika dirinya berlayar menuju kota Martasinga, Pasambangan, dan Japura yang berada di sekitar pelabuhan Muara Jati wilayah Cirebon. Kedatangan ulama besar ini disambut dengan baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati putera bungsu Prabu Wastu Kencana.

Masyarakat sangat tertarik terhadap ajaran Islam yang disampaikan oleh Syekh Quro, sehingga mereka banyak yang mengubah agamanya dari Hindu – Budha ke agama Islam secara sukarela.

Kegiatan penyebaran agama Islam oleh  Syekh Quro rupanya mencemaskan penguasa Padjadjaran yang bernama Prabu Angga Larang dan ia meminta Syekh Quro menghentikan kegiatan dalam penyebaran agama Islam.

Perintah itu tentu saja dipatuhi. Namun kepada utusan Prabu Angga Larang beliau  menitipkan pesan bahwa dari keturunan Padjadjaran kelak akanada yang menjadi Waliyullah (Wali Allah). Segera setelah peristiwa itu Syekh Quro memohon diri kepada Ki Gedeng Tapa akan kembali ke Malaka. Ki Gedeng Tapa juga menyatakan bahwa ia sangat prihatin atas peristiwa tersebut sebab kegiatan belajar agama Islam yang sedang ditekuninya juga turut terhenti. Sebagai gantinya ia menitipkan puterinya yang bernama Nyi Subang Larang untuk dididik oleh Syekh Quro di Malaka.

Beberapa tahun kemudian Syekh Hasanuddin atau Syekh Quro telah berbulat hati akan kembali ke wilayah kerajaan Padjadjaran guna menyebarkan agama Islam bersama para santrinya. Dua buah kapal yang ditumpangi oleh para santri dengan membawa perlengkapan secukupnya bertolak dari pelabuhan Malaka menuju Pulau Jawa. Setelah dua kapal mengarungi Laut Jawa dan menelusuri Sungai Citarum maka rombongan para santrri Syekh Quro ini sampailah di Pura Dalem yaitu Pelabuhan Karawang.

Sebagai ulama besar tentu Syekh Quro memohon izin kepada petugas keamanan pelabuhan untuk menetap di daerah itu. Maka dibangunnya tempat pengajian yang berfungsi juga sebagai tempat tinggal dan sebagian lagi untuk surau (tempat ibadah kecil).

Lokasi masuk menuju makam Syekh Quro, banyak dipadati para gelandangan

Lokasi masuk menuju makam Syekh Quro, banyak dipadati para gelandangan. (Foto: Yuda)

Dengan cara berdakwah dengan penuh keramah tamahan maka banyak penduduk di daerah pelabuhan itu memeluk agama Islam. Surau itu dalam waktu berikutnya tentu diperluas dan bangunannya diperbesar sehingga menjadi sebuah Masjid.

Mendengar Syekh Quro mendirikan pesantren di pelabuhan Karawang, maka penguasa Padjadjaran yang bernama Prabu Angga Larang untuk kedua kalinya memerintahkan agar penyebaran agama Islam itu ditutup. Dikirimkanlah satu pasukan di bawah piminan Raden Pamanah Rasa putera mahkota Padjadjaran. Namun, ketika pimpinan utusan akan menutup kegiatan pengajian tersebut dari jauh terdengar alunan suara merdu pembacaan ayat suci Al- Qur’an. Raden Pamanah Rasa terus mendekat ke tempat dimana suara itu dikumandangkan.

Ternyata datangnya suara merdu itu datangnya dari santri cantik jelita yang bernama Nyi Subang Larang. Sehingga niat semula putera mahkota itu akan menutup pesantren diurungkan, dan bahkan secara pasti menyampaikan isi hatinya mengajukan pinangan untuk mempersunting Nyi Subang Larang.

Lamaran rupanya diterima oleh Nyi Subang Larang hanya dengan mengajukan beberapa persyaratan antara lain maskawinnya berupa “Bintang Saketi” yang berada di kota Mekah. Menurut sumber lain ada syarat lain yang diajukan oleh Nyi Subang Larang yaitu selain perkawinan dilakukan secara Islam, juga apabila telah menjadi istri dirinya tidak dilarang untuk melaksanakan ibadah Shalat. Kemudian anak yang akan dilahirkan dari perkawinan mereka harus ada yang menjadi raja dan sang Prabu tidak melarang masyarakatnya untuk memeluk agama Islam.

Semua persyaratan tersebut diterima oleh Raden Pamanah Rasa, dan beberapa saat kemudian dilangsungkan pernikahan antara Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Subang Larang. Adapun sebagai penghulunya ialah Syekh Quro dan upacara pernikahan dilangsungkan di surau cikal bakalnya Masjid Agung Karawang.

Pernikahan Raden Pamanah Rasa yang diangkat menjadi Raja Padjadjaran dengan gelar Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang di Masjid Agung Karawang melahirkan tiga orang putera dan puteri. Pertama bernama Raden Walangsungsang. Kedua Raden Rara Santang dan yang ketiga Raden Kian Santang.

Dengan demikian maka Syekh Quro merupakan ulama besar yang mendirikan pesantren pertama di Karawang. Namun rupanya kurang mendapat dukungan dari pihak penguasa Padjadjaran sehingga pesantren tersebut kurang berkembang. Para santrianya menyebar kearah selatan dan utara Karawang dalam kegiatan syiar agama Islam. Setelah Syekh Quro berusia lanjut rupanya menyebarkan agama Islam di daerah Utara Karawang hingga akhir hayatnya. Masyarakat beranggapan bahwa Syekh Quro dimakamkan di pemakaman Kampung Pulo Bata Desa Pulo Kalapa Kecamatan Lemah Abang.

Makam Syekh Quro tampak pintu depan

Makam Syekh Quro tampak pintu depan. (Foto: Yuda)

Dalam sebuah dokumen surat masuk ke kantor Desa Pulokalapa tertanggal 5 November 1992, ditemukan surat keterangan bernomor P-062/KB/PMPJA/ XII/11/1992 yang dikirim Keluarga Besar Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII. Surat tersebut ditujukan kepada kepala desa, berisi mempertegas keberadaan makam Syekh Quro yang terdapat di wilayah Dusun Pulobata Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang bukan sekedar petilasan Syekh Quro tetapi merupakan tempat pemakaman Syekh Quro.

 

Simbol Syekh Bentong

Simbol Syekh Bentong. (Foto: Yuda)

Selain itu, di Dusun Pulobata juga terdapat satu makam yang diyakini warga Karawang sebagai makam Syekh Bentong atau Syekh Darugem, yang merupakan salah seorang santri utama Syekh Quro.(yfs)

Category: Budaya, KarawangTags:
No Response

Leave a reply "Perjalanan Syekh Quro di Karawang"