“Lolos dari Maut”, Postingan Penyair Nasional yang Gagal Terbang Bersama Sriwijaya Air

Karawang, KTD- Peristiwa jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ182 di Pulai Laki, Kepulauan Seribu menyisakan kesedihan mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Kesedihan dan haru itupun dirasakan oleh salah satu tokoh penyair nasional, Asrizal Nur. Asrizal bersama keluarga sedianya akan bertolak ke Pontianak menggunakan maskapai tersebut. Namun batal karena administrasi rapid tes dan antigen sebagai syarat lolos terbang kurang lengkap.

Cerita ini diunggahbeberapa jam melalui akun Facebooknya @Asrizal Nur setelah kejadian jatuhnya pesawat Sriwijaya Air. Hingga kini, postingan tersebut sudah dibagikan sebanyak 120 kali.

LOLOS DARI MAUT

Alhamdulilah akhrnya Allah menolong kami sekeluarga, kalau tidak tentu kita tidak bertemu lagi.

Tgl 7 Januari kami berniat sekeluarga ke Pontianak, Kalimantan Barat, berencana mau bertemu anak kami paling besar bernama Jalaluddin Fauzhi Nur besar yang sudah beberapa tahun di Pontianak kuliah di IAIN Pontianak, disamping itu juga akan menghadiri undangan dari para guru se-Pontianak sebagai narsa sumber.

Tiket pesawat sudah dibeli, kami berempat, istri, saya dan 2 anak gadis kami yang cantik pun mengurus Rapid Tes dan antigen sebagai syarat yang diwajibkan negara kepada rakyatnya kalau keluar daerah yang harga perorang hampir sama dengan harga tiket pesawat sekali pergi.

Kami mengagtakan kepada pihak Klininik yg bahwa kami akan ke Pontianak,tak ada keterangan apa pun dari klinik sehingga kami ke airport dengan bekal surat negatif, rapid tes dan antigen.

Kami pun ke bandara dg rasa sesak di dada karena terasa berat dengan biaya rapid tes dan antigen itu namun ada rasa bahagia akan bertemu anak dan keluarga di Pontianak.

Sesampai di air port disaat masuk kami diperiksa, ternyata Rapit tes dan antigen itu tidak lengkap harus urus yg namanya Swap PCR , sempat lama kami berdebat dengan petugas kenapa tak ada komunikasi dengan pihak klinik sehingga kami dapat info yang sama dengan bandara, karena untuk menghindari antri kami disuruh komunikasikan dengan maskapai jika diperbolehkan maskapai maka surat akan distempel.

hampir 1 jam kami mengurus di maskapai kamipun tetap tak dizinkan masuk pesawat, kami harus menguru Swap PCR itu, perdebatan panjang kami lakukan, kenapa pihak maskapai tidak memberitahu penompangnya saat membeli tiket, karena kami membeli tiket melalui Traveloka maka mereka suruh kami urus ke Traveloka, Traveloka tak dapat memberi jawaban kecuali mengatakan tiket keberangkatan anda hangus.

hampir puluhan orang bernasib sama diantaranya para ibu yg tak punya uamh untuk mengurus Swap PCR itu, ntah bagaimana nasib itu.

Pesawat pun sudah terbang, kami gagal hari itu ke Pontianak, Putri Thania anak saya sempat marah2, inilah terakhir kali kita naik LION AIR tidak profesional, nanti kita naik SRIWIJAYA saja.

Lalu kamipun mengurus SWab PCr , ternyata mahal sekali, bila 24 jam maka biayanya bisa sejuta perorang bila 2×24 Jam Rp.800.000

Kamipun berunding , Putri mengusulkan kita ambil yg 2x 24 jam saja , berangkat tgl 9 Januari naik SRIWIJAYA, karena Swap PCr itu selesai pukul 11.00 atau 12.00WIB kita naik pesawat yg pukul 13.00 WIb

Saya langsung mengiyakan, anak perempuan bernama hoki tetap ingin ke Pontianak, sedang istri saya sudah kehilangan semangat.

Setelah berfikir sejenak, lalu saya memutuskan ; Sudahlah, kita batalkan saja ke Pontianak, pertama biayanya mahal karena kita harus tidur di hotel sekitar bandara , biaya lagi, dan bagaimana pula kalau hasilnya tak sesuai di harapkan. Bisa – bisa kita gagal lagi ke Pontianak, sudahlah kita batalkan saja ya Pasti ada hikmah dari ini semua, misal kalau paksakan berangkat juga, akan terjadi sesuatu yg tak tak baik bagi kita sekeluarga .

Akhirnya setelah terdampar 4 jam di bandara kamipun pulang.

Dan hari ini kami dengar kabar, pesawat SRIWIJAYA yang tadinya akan kami tompangi mengalami musibah, hilang tak ditemukan.

Sujud syukur kepadaMu ya Allah yang telah menyelamatkan kami, aamin.

Kisah nyata Asrizal Nur dan sekekuarga. (red)

Related posts

Leave a Comment