Sisi Mistis Makam Adipati Singaperbangsa, Muncul Suara Lisung dan Buaya Putih

Karawang, KTD – Kompleks makam Bupati Karawang di Manggungjaya dianggap memiliki nilai sakral. Muncul kepercayaan bahwa siapapun yang ingin jadi Bupati Karawang harus berkunjung ke Manggungjaya.

Hal itu kemudian jadi tradisi. Masyarakat Karawang percaya bahwa siapapun yang ingin menjadi Bupati Karawang maka dia harus berziarah ke Makam Bupati Singaperbangsa.

Namun boleh percaya atau tidak, banyak cerita berbau mistis mewarnai keberadaan komplek makam Bupati Karawang Adipati Singaperbangsa di Desa Manggungjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon Kabupaten Karawang itu. Salah satunya adalah soal suara lisung dan kemunculan buaya putih di area komplek makam para Bupati Karawang tersebut.

Kemunculan fenomena ghaib itu diyakini memberikan pertanda akan datangnya bencana. Hal itu diceritakan juru kunci makam, Yahya Sulaeman.

“Memang tidak sembarangan orang yang bisa mendengar suara lisung bertalu-talu atau melihat sosok buaya putih disini. Tapi jika ada pertanda seperti itu, biasanya dalam waktu dekat Karawang akan terkena banjir besar” beber Yahya ketika diwawancarai usai mendampingi Bupati dan Forkopimda melaksanakan tawasul budaya dan ziarah menyambut HUT Karawang ke-388, Senin (13/9/2021) malam.

Yahya mengungkapkan, para peziarah yang berkunjung ke makam pun memiliki pengalaman mistis berbeda. Semua bergantung dengan niat dan kepentinganya.

“Ya macam macam. Ada yang ketemu sama inilah. Diliatin itulah. Kan mereka disini niatnya baik. Dzikir sambil kirim doa meminta ridho Allah,” kata Mantan Kades Sumurgede ini.

Ia menjelaskan, setiap hari atau saban malam jumat, komplek makam tersebut tak pernah sepi peziarah. Menurutnya, sebelum pandemi melanda, ada empat momen bulan Hijriyah yang biasanya jadi waktu para peziarah berdatangan ke kompleks makam, yaitu Muharram, Mulud, Syawal dan Ruwah atau Sya’ban. Para peziarah yang datang dari segala penjuru daerah. Terjauh yang pernah ia temui, ada peziarah yang datang dari Kamboja dan Jepang.

“Namun kebanyakan dari 4 daerah, yakni Karawang Subang, Purwakarta dan sebagian Bekasi. Dulu kan sewaktu Adipati Singaperbangsa memimpin, Karawang masih mencakup keempat daerah itu,” tuturnya.

“Mereka yang datang intinya ingin bersilaturahmi, karena ternyata kunjungan mereka ini katanya sesuai amanat dari para orang tua mereka yang sebelumnya memang sering kesini. Jadi semacam turun temurun gitu,” tambahnya.

Ia selalu menyampaikan pesan kepada para peziarah, agar tidak melupakan leluhur. Sebagai penerus, sudah selayaknya bisa memberi contoh kepada generasi muda akan pentingnya menghargai sejarah.

“Bagi yang belum kesini cukup kirimkan doa saja. Baca al fatikhah untuk leluhur kita,” tutupnya. (red)

Related posts

Leave a Comment