Tiga Anaknya Juara Tahfidz, Ummu Aisyah Bagikan Resep Jadi Penghafal Qur’an

Karawang, KTD – Para orangtua Muslim pastinya menginginkan seorang anak yang bisa menjadi penghafal Alquran. Apalagi berhasil mendidik seluruh anak-anaknya menjadi penghafal Alquran. Itulah yang telah dilakukan Ferina Yuliawati bersama sang suami yang berhasil mendidik ketiga anaknya menjadi hafidz Qur’an.

Bahkan, ketiga anaknya tersebut sukses sebagai Kafilah yang menjuarai cabang lomba tahfidz Qur’an dalam ajang Sari Tilawah Qur’an dan Hadist (STQH) Provinsi Jawa Barat yang dilaksanakan belum lama ini. Ketiganya yakni Aisyah Nurul Maulida (13) sebagai Juara 1 Tahfidz 30 Juz, Anas Abdullah (11) Juara 2 Tahfidz 30 Juz dan Listinawati (9) Juara Harapan 2 cabang 100 hadist tanpa sanad. Ketiganya baru saja menerima kadeudeuh atau penghargaan atas raihan prestasi mereka oleh Pemerintah Kabupaten Karawang, Kamis (7/10/2021) siang.

“Nikmat Allah yang luar biasa. Semoga Allah menginzinkan putra putri kami menjadi Hanilul Qur’an dan berakhlaq Qur’ani,” ungkap Ferina atau biasa dipanggil Ummu Aisyah oleh anak-anaknya ini saat diwawancarai. 

Kata Ferina, memiliki anak anak penghafal Qur’an merupakan sebuah cita cita yang telah ia dambakan. Bersama sang Suami, mereka bersepakat, kelak, jika memiliki anak, mereka ingin anak anaknya hafal 30 Juz sebelum usia 10 tahun. Dengan kesungguhan dan doa yang senantiasa dipanjatkan, cita cita tersebut benar benar terwujud.

Demi cita citanya terwujud, ia rela menyingkirkan televisi dari rumahnya dan tidak mengizinkan anaknya mendengarkan suara musik, juga tidak diberi izin memiliki gadget sendiri

“Izin Allah SWT, alhamdulillah anak kami sudah hafal 30 Juz di usia 4 tahun, diawali dengan belajar Iqro. Ikhtiar tiada henti hingga di usia mereka sekarang, setiap hari masih bisa setor 3 sampai 5 Juz kepada kami,” ungkapnya.

Ditanya mengenai metode apa yang dipakai dalam melatih anak- anaknya, ia menjawab sederhana. Kata dia, orang tua merupakan pondasi dasar dari segala pendidikan, khususnya ibu. Bahkan ia mengaku, ketiga anaknya tidak menempuh pendidikan formal.

“Seorang ibu adalah madrasah utama bagi anak anaknya. Jadi saya pribadi menekankan kepada diri sendiri bahwa anak anak saya, harus mendapatkan pendidikan langsung dari saya dan abinya. Ya memang harus penuh sabar, telaten, berjuang, berdoa dan ikhtiar untuk anak anaknya,” kata dia.

Ke depan, ia terus berharap dan berdoa kepada Allah agar anak anaknya terus istiqomah sebagai penghafal Qur’an, bukan menjadi penghafal Qur’an hanya karena adanya sebuah perlombaan saja.

“Kalau soal menang itu sudah rezeki ya. Tapi saya berharap akhlak dan sikap anak anak saya juga bisa tercermin sebagai penghafal Qur’an,” tutupnya. (red)

Related posts

Leave a Comment