H. Endang dan Asal Usul Pembangunan Jembatan Viral Puluhan Juta Karawang

Karawang, KTD – Belakangan ini, Jembatan Penyebrangan Rumambe menjadi buah bibir di media sosial. Kontenya viral wara wiri di fyp Tiktok. Sejumlah media online lokal nasional juga turut memuat keunikan jembatan tersebut. Mulai dari bentuknya hingga jumlah penghasilan yang didapat.

Tim KTD berkesempatan bertemu dengan pemilik Jembatan Rumambe. Dialah Haji Endang. Sosok ini juga ikut viral sehingga masyarakat kini mengenalnya. Kami diterima dengan baik dan ramah. Kesan bersahabat muncul pada diri H. Endang. Beliau banyak senyum dan semangat meski usia sudah tak lagi muda.

H. Endang bercerita, tahun 2010, ia didatangi H. Yusuf, salah satu sesepuh di Rumambe. Kedatangan H. Yusuf untuk meminta bantuanya agar dibuatkan sebuah jembatan yang bisa mengubungkan antara Desa Anggadita Kecamatan Klari dengan Desa Parungmulya Kecamatan Ciampel.

“Intinya beliau ingin ada kemudahan akses agar masyarakat bisa ke tempat kerja lebih cepat. Biar Rumambe tidak sepi dan bisa mendatangkan rejeki dan memberikan peluang mata pencaharian bagi masyarakat sekitarnya,” kata H. Endang.

Usai mendapatkan masukan dari H. Yusuf, ia kemudian menemui Bupati Karawang yang kala itu masih dijabat H. Dadang S. Muchtar. Ia meminta petunjuk soal keinginanya membuat jembatan. Namun, Bupati Dasim (sapaan akrab Dadang S.Muchtar) tidak mengizinkan dengan alasan pertimbangan risiko yang nantinya akan terjadi.

H. Endang lantas berpikir. Semangatnya untuk membantu masyarakat terus berapi-api. Akhirnya masih di tahun yang sama, H. Endang membuat jembatan penyebrangan dengan kayu.

“Waktu awal awal pembangunan ya tidak gampang. Ada masyarakat yang lewat jembatan motornya tercebur. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Kami pun mengganti kerugian dengan membelikan sepeda motor baru. Untuk yang luka, kami bantu biaya perawatanya sampai sembuh,” bebernya.

Sekian waktu berjalan, tepatnya di 2016, ia kemudian berinovasi membuat
perahu dari besi sebagai pengganti bangunan jembatan yang awalnya terbuat dari kayu. Ia mengaku waktu itu menghabiskan modal Rp. 300 juta. Dari jembatan itulah, warga sekitar penyebrangan menjadi terbantu karena bisa mendapatkan mata pencaharian seperti menjadi karyawan H. Endang dan berdagang disekitar penyebrangan.

Saat ini tanah di penyebrangan sudah menjadi milik H. Endang. Kini ia telah memiliki 39 karyawan. Untuk biaya perawatan jembatan penyebrangan dan jalan sekitar penyebrangan, dibutuhkan biaya kurang lebih 50juta perbulannya.

Dalam kesempatan itu, secara pribadi, ia ingin menghaturkan terima kasih kepada TNI yang mengadakan kegiatan Citarum Harum sehingga tidak ada eceng gondok disekitar sungai citarum di jembatan penyebrangan.

“Dengan adanya jembatan penyebrangan ini alhamdulillah bisa membantu banyak pihak, seperti warga sekitar penyebrangan, karyawan yang melintas untuk menuju pabrik bahkan pemerintah juga terbantu,” katanya.

Related posts

Leave a Comment